a l t e r e g o s e n s i t i f



Ini seperti Punk Rock 101. An introduction. Perkenalan. Apa yang terlihat dan yang tak terlihat. Apa yang society pikir telah melihat secara utuh keseluruhan, namun ternyata baru sebagian. 

"Apakah kau bisa melihat gigiku?"
"Tentu bisa!"
"Apakah kau bisa melihat akar gigiku?"
"Emang ada?!"

Nah, itu permasalahannya. Beberapa orang, kebanyakan tidak tahu gigi itu terdiri dari mahkota dan akar. 

"Ooh.. Jadi ternyata gigi itu panjang ya?"
"Yup!"
"Jadi kalau misalkan dicabut sampai bawah ya?"
"Yoi!"
"Jadi sebenarnya dokter gigi itu apanya gigi sih?"
"Talok dan tembok! Iya, pohon talok dan tembok."


---

Anatomical. Struktural. Bagian-bagian yang mengambil peran. Silahkan, jika perlu dihafalkan. 


1. Kasat mata, garda utama, keras, padat, mastikasi (kunyah), fonetik (bunyi huruf), dan estetik (penampilan).
2. Lapis kedua, lebih kuning, lebih lunak, sensitif pada suhu, pipa-pipa sehelai rambut terselubung terkoneksi dengan pulpa.
3. Ruang penghidupan, serabut saraf dan pembuluh darah, sumber nutrisi. Nyawa gigi.
4. Gusi. Kenyal, merah jambu, berbeda setiap individu, ras berpengaruh, rokok berpengaruh. Melekat kuat pada alveolar.
5. Tulang rahang. Dimana gigi geligi mengakar. Fondasi utama fungsi permulutan.

---

Perhatian. Iya, tolong diperhatikan. Gambarnya aja, jangan yg nggambar. 


Karies/Decay/Pembusukan/Krowok/Lubang jahat pada gigi. Bisa lewat atas. Bisa lewat samping. Bisa lewat sela-selanya.

Bakteri pada gigi itu bagaikan evil. Seperti halnya iblis yang tak lelah menggerogoti iman homo sapien. Mereka pun tak lelah, terus berusaha menggerogoti gigi manusia. Selayaknya lingkaran cinta sejati. 

Gadhul - sikat - hilang - timbul - muncul - gadhul - sikat - timbul - muncul - peluk. Konsisten. Unconditional.

Andaikan manusia itu sekonsisten bakteri dalam menggapai cita-citanya. Niscaya akan tercapai apa yang dicita-citakannya. #malahngopo

"Tapi pak, saya sudah rajin gosok gigi dua kali sehari, rajin juga memakai obat kumur.. Kok masih aja berlubang ya?"

Pertanyaannya adalah, 'sejak kapan mulai rajin menyikat gigi?'

Karena bakteri sudah aktif berinvasi sejak umur manusia masih satu digit. Prosesnya lama sekali. Tahunan, hingga ketika tersadar,

"Aduh, ini kok kalau kemasukan makanan yg manis gigiku ngilu ya? Minum es juga.."

Dan berbagai jenis keluhan lainnya. Itu berarti sudah masuk kategori gambar kedua. Pertanda bahaya kawan. Jangan dikesampingkan.

---

Belum terlambat. Dokter gigi selalu menunggu. Tapi jika ada yang putus asa karena gusinya sudah terlanjur (sedang atau pernah) bengkak, itu wajar. Tapi masih bisa dirawat, dan gigi-gigi yang lain juga masih ada.

Lebih baik terlambat kan daripada tidak sama sekali? Katanya sih gitu. 

"Lalu obat sakit gigi yang paling ampuh apa gan??"

"Pencegahan!" Yes. Mencegah sekaligus mengobati.

Take a look at this. Sebuah contoh restorasi (perbaikan) untuk kategori pertama -yang bahkan sudah berstatus 'warning!'.


1. Penampakan mahkota gigi dari atas. Jika bercermin dan menemukan garis hitam yang agak tebal. Tandanya dia sudah tidak sehat.
2. Nah lho, jika mahkota tadi dilihat dari arah samping. Ternyata sudah ada gua di dalamnya. Dan jutaan bakteri makan tidur kencing disitu. 
3. Jaringan yang sudah busuk, terlebih dahulu harus diangkat (dikikis). Dihapuskan dari muka gigi. Sampai tak tersisa bakteri.
4. Lalu jadilah waduk. Waduk sehat yang siap ditumpat.
5. Dan sudah jadi. Tumpatan/tambalan ini mencegah agar Decay tidak semakin meluas dan mendalam. Sekaligus juga mengobati jaringan yang terinfeksi.

"Lantas, bilamana krowok sudah masuk kategori kedua?? Ketiga??"

Yang jelas perawatannya akan lebih kompleks. Terutama kategori ketiga, tidak jarang yang melibatkan pain (rasa sakit). But don't be afraid. There's always a way out.

---

Dental 101 edisi karang gigi.


Basically, gadhul-gadhul itulah yang membentuk plak, lalu disetubuhi saliva (air ludah) dan secara kimiawi, dengan proses yang lama, menjadi keras. Menempel erat pada leher gigi, bersandar manja pada ujung tepi gingiva. 

Tipe saliva, setiap orang berlainan. Semakin pekat, biasanya akan semakin cepat pula kalkulus itu akan terbentuk. Dan bedanya dengan karies, yang terinfeksi disini adalah jaringan sekitarnya. 

Kadang-kadang ada yang berdarah ketika menyikat gigi. Pada saat gingiva meradang, pembuluh darah melebar, sehingga mudah pecah. 

Tentu karang gigi adalah penyakit, karena kandungan bakterinya. Peradangan adalah perlawanan. Tubuh bertahan.

Lain halnya dengan Stain. Seperti noda membandel pada kerah baju yang kalian pakai. Bercak pewarnaan berupa garis atau spot hitam atau coklat dapat pula melekat pada punggung gigi. Tak terhindarkan. Ampas kopi dan teh, penyebab umumnya. Apalagi jika bercampur dengan karang gigi. Mantap sudah!.

Bercermin. Ingat.. Hanya dengan sikat gigi, tidak akan bisa menghilangkan karang gigi. 

Seperti halnya bahu yang setiap hari menjadi sandaran, tempaan dan curahan hati gebetan. Lama-lama akan lelah. Kecapekan. Gingiva itu pun demikian, tertekan, karena akumulasi karang gigi yang kian hari kian menggunung. Menekan.

Akibatnya, gingiva turun, dibawahnya ada alveolar juga ikut-ikutan. Perlahan tapi pasti, gigi geligi yang setiap hari terselimuti, terlindungi, suatu hari dengan sendirinya akan tertelanjangi. Lalu tumbang lepas sendiri-sendiri. 

Oh karang gigi. Bergegaslah, minta tolong dentist terdekat untuk dibersihkan. Jika sudah bersih, rutinkan. Enam bulan sekali. 

---

Kiranya demikian, dari sedikit yang kami ketahui dan bisa bagikan. Bolehlah, sekali-sekali gigi dinomor-satu-kan. Tetap semangat, jangan menunggu sakit untuk ke dokter gigi dan have a nice teeth.


Nb: - Toothache for Dummies didapat dari retweet gambar seri Dental Caries, oleh akun @ikay_k
- gadhul = jigong


p.s. Ojo Lali Sikatan!

Sangkima, Maret 2014




Read More …

I had never imagine, in my life, that someday akan terdampar di sini. Di salah satu pulau terbesar di Indonesia. Rasanya baru kemarin ibuku memasukan bermacam bumbu-bumbuan ke dalam ranselku untuk bekal di perantauan. Tapi sekarang sudah masuk bulan ke lima.

Tiga minggu lalu, tanpa disangka-sangka, datang tawaran dadakan untuk menggantikan dokter gigi di Sangkima. Kecamatan tetangga sebelah Sangatta. Aku membayangkan akses kesananya. 

Ada keraguan di awal, lalu kami berbicara di telepon.

"Nanti akan ada yang antar jemput mas.." Kata bapak2 dari pihak klinik. Mencoba meyakinkan.

Seumur-umur, secara formal, belum pernah aku diantar jemput, apalagi ada supir pribadi. So, here I am now, untuk tiga bulan kedepan sampai cuti melahirkan dokter yang aku gantikan berakhir. Melewati jalan tanah liat merah, satu jam berangkat, satu jam pulang, dari senin hingga jumat. Every morning. Every noon.


FYI, jam enam pagi di sini, gelapnya masih seperti jam lima-tiga puluh di Jogja. Di jam itu, Pak Tajib sudah berangkat dari Sangkima, dan jam tujuh touch down di Sangatta. Kemudian aku melompat ke mobil, berdua kita kembali kesana.

Pagi pertama berangkat kerja, hujan turun lumayan deras. Selain perut seperti dikocok non-stop selama satu jam karena jalan yang bergelombang dan penuh kerikil, jalanan juga jadi licin. Rasanya mau muntah, tapi belum sarapan.

Di beberapa titik jalan, kamu akan merasakan dua roda belakang automatically ngepot ke kanan dan ke kiri. Seperti mau berputar di tempat. Semakin bertambah kecepatan, akan semakin nyelip pula ban kendaraan. Jadinya kami hanya di kecepatan 30-40 km/jam.

So, you wanna learn how to drift? Seperti di Fast n Farious? Mulailah mengemudi di jalan ini.

Pak Tajib berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. Hanya berbicara ketika ditanya, dan sekalinya bicara terkadang pakai bahasa jawa kromo alus. Aku jadi bingung meresponnya.

Setelah melewati jalan belah hutan itu tadi, kami akan berhenti di pos sekuriti. Tanya jawab seperti ini yang akan aku dengar setiap pagi,

"Mau kemana pak?" Tanya sekuriti
"Ini pak mau ke klinik nganter pak dokter!", jawabnya dengan bahasa Indonesia.

Sekuriti lalu menundukkan kepala melihat ke dalam jendela mobil. Mungkin dalam hatinya bertanya, 'mana dokternya?'. Yang ada cuma bocah tengik, berambut gondrong, ear-phone biru tertancap di lubang telinga, muka pesimis. 

Aku mengangkat telapak tangan kananku, stay cool dan sekuriti tersenyum ganjil.

"Silahkan pak.." Katanya sambil membuka gerbang.

Di balik gerbang, jalanan sudah berubah jadi beton. Halus. Melegakan sekali rasanya. Dan sekitar satu kilo dari situ, seiring hujan yang mereda, setelah perkampungan kecil, kami mulai memasuki area perumahan. 

"Kliniknya sebelah mana pak?" Tanyaku
"Nggeh niku mas, kulo niki mboten ngertos.." (Lha itu mas, saya ini nggak tahu..)
"Waduh, coba telpon pak sama yang ngasih tugas."

Penunjuk waktu di handphone berada di angka delapan, tepat satu jam kami di jalan. Pak Tajib sedang menunggu jawaban telpon, sambil menyetir lambat-lambat. Aku melihat dari balik kaca mobil yang kotor, perumahan yang sepi, bersih dan terlihat sangat alami. 


Kuturunkan kaca sedikit, udaranya masuk menyejukkan, mobil berjalan melewati kolam buatan yang dikelilingi rumput hijau. Di tepinya ada satu pondok kecil, cocok sekali untuk praktisi Yoga. Bersepeda juga akan menyenangkan, sambil mendengarkan kicauan burung di antara rimbun pepohonan yang menenangkan.


"Halo mas Jer, ini pak dokternya ditaruh di mana?" Tanyanya pada seseorang di telepon, memecah keheningan.

"Ya, ya. ini sudah di jalan Ulin, ke atas terus belok kanan ya.." Sambungnya lagi.

"Oke ini sedang naik, belok ke ka.. nan. Loh kok malah hutan pak??" Tanyanya semi-teriak, di telepon.

Aku tidak bisa menahan tawa.

"Ini lho mas, kulo niku disuruh njemput, tapi ndak dikasih tahu suruh ditaruh di mana mas-nya ini." Rentetnya kepadaku sambil putar kemudi, lalu balik arah.

Sepintas aku melihat bangunan putih, sendirian di atas bukit, bentuknya bukan seperti rumah penduduk.

"Mungkin itu pak tempatnya.." Kataku, sambil menunjuk ke atas.
"Oh iya itu kayaknya mas.. Ini belok kiri bukan ke kanan namanya"

Aku cuma tersenyum. Senyum jet lag. Another journey has begun.


---

Dua minggu kemudian, sistem pencernaan terganggu. Rasanya tidak karuan. Dan mencret di perantauan itu sangat tidak keren. Ah, ternyata tidak sekuat itu. Ibu, aku ingin pulang.

When the drugs was working, I felt like turning into a zombie. Sabtu malam, dengan badan lemas, merangkak aku menjangkau handphone. Agak lupa dialognya, tapi kurang lebih seperti ini.

"Halo.. Dengan mas Jeri? Anu mas, usus saya bermasalah.. Mungkin karena fakfor goncangan jalan juga, jadi seharian saya bed rest. Bisakah mobilnya diganti?"

I was sick, and I didn't know what to say. Tapi mas Jeri meng-iyakan, dan itu dianggapnya sebagai masukan. Kontraksi ususku mendadak sedikit reda.

Tapi hari selasa berikutnya ternyata masih sama. Jam dua aku akan menunggu di kursi tunggu resepsionis klinik. Lalu suara khas kendaraan ini terdengar mendekat,

"Itu dok, limosin-nya udah datang.."
"Apa mbak? Oooh.."

Kami tertawa kompak. Lalu aku berpamitan, berjalan ke arah pintu limo. Tiba-tiba pikiran ini muncul di kepala,

"Pak saya saja yang nyetir!"

Pak Tajib agak kaget, kemudian perlahan pindah juga ke seat sebelah.

"Oh iya pak.. Boleh2.." Jawabnya, sungkan.


Setengah jalan, si bapak yang suka pakai penutup kepala khas vokalis Jamrud ini tertidur. Mungkin sangking capeknya. Meskipun punggung sama-sama basah karena keringat, pinggang pegal karena shock breaker serasa mati, memegang kemudi ternyata tidak secapek jika jadi penumpang. Atau mungkin hanya perasaanku saja.

Semua bisa karena terbiasa. Dan makin kesini aku jadi semakin menikmati. Kaca mobil tanpa ray ban, panas matahari yang menembus celana, debu jalanan yang serupa asap, dan pak Tajib yang tidak tahan jika terpapar AC terlalu lama.


Sepanjang jalan pulang, jika jadi penumpang, kegiatan favorit adalah memutar lagu di iPhone dengan mode Shuffle All. Sementara pak Tajib menyetir, sambil sesekali menggaruk kepala. Aku dikejutkan dengan random list lagu-lagu yang terputar.

The Long And Winding Road-nya Beatles, yang membuat perjalanan terasa lebih panjang. Gadis Suku Pedalaman milik Morfem yang liriknya bikin geli,

'Ku spekulasi kau bercinta dengan gadis suku pedalaman, ku spekulasi kau terikat, dan akhirnya tiada mungkin untukmu pulang..'

Journey to The End, dari Rancid yang menjaga jiwamu agar tetap punk rock. Sakitmu Kebebasanmu, yang membuatku berpikir sambil melihat sapi-sapi makan rumput di kiri jalan, 'How could I scream like that?'. Damn, I miss Alterego.


Ada 15-20 tracks di setiap perjalanan tergantung durasi. Pearl Jam's Back Spacer salah satu yang terfavorit, selain album Love Bomb dari Navicula dan beberapa lagu The Cure. Pelan-pelan jadi lebih intim. Karena meskipun ngantuk, tapi tak pernah bisa tidur. Aku juga jadi hafal refrain Kou kou The Fisherman (Endah & Resha),

'Life is tough, yes it's tough.. But don't give up'


---

Jumat terakhir bulan februari, begitu limosin berhenti di depan rumah sakit di Sangatta, pak Tajib bertanya dengan ragu-ragu.

"Mas, ini (rumah sakit) cuma buat perusahaan, apa bisa buat umum?"
"Bisa pak buat umum.." Jawabku
"Kalau ada lowongan mas.. Bisa mas, buat nyupir atau apalah buat saya.."

Aku tidak menyangka arahnya akan kesitu. Tertegun sebentar, sebelum aku membuka pintu limo,

"Iya pak nanti kalau ada lowongan tak kasih tau.. Makasih ya pak, sampai ketemu senin"

Aku sedikit menyesal for being such an ass-wipe dan berperilaku manja beberapa hari sebelumnya. Setidaknya aku bekerja di ruang berpendingin udara. At least I got something to give back to community. Dan pak Tajib, dia dua kali lipat lebih lama dibanding waktuku di jalan itu. 

Obrolanku dengan seorang dokter gigi yang sudah 20 tahun malang melintang di tanah Borneo, pada akhir Januari. Kata-katanya masih terpatri di memori.

"Hidup itu, semua orang punya peran-nya sendiri mas. Menjadi dokter gigi, itu mulia sekaligus penuh tantangan. Secara tidak langsung, dengan keahlian yang kita punya, itu sudah bermanfaat untuk kehidupan. Istilahnya, mengabdi, melayani masyarakat yang membutuhkan. Jadi kalau niat kita baik, pasti akan ditemukan juga dengan orang-orang yang baik."

---


Bersama pak Tajib yang malu-malu serong kiri. Di bawah terik cuaca 39'C Sangatta yang menyipitkan mata. Di depan limosin kami berpose, berdiri.

---

Enjoy your Ride, your Road, and your own Journey. Greeting from East Borneo!
Read More …

I know. Just don't say anything.


Well, I've been listening to his music since I was 13. Saya sedang main ke rumah pakdhe waktu itu, ketika menemukan VCD kompilasi Evergreen Rock, berisi band2 rambut besar seperti Guns N Roses, Bon Jovi, Poison dan sejenisnya. Satu nama di sampul CD yg juga saya masih asing adalah Nirvana.

Teritorial Pissing kalau gak salah judul lagunya. Tempo musiknya cepat, ibaratnya kalau orang nyebrang jalan raya itu sambil berlari dan tidak tengok kana kiri. Masa bodoh ada kendaraan lewat. 

Vokalisnya, yang mukanya nggak kelihatan teriak2 terus sepanjang lagu, lehernya sampai merah kayak mau meledak. Di akhir lagu dia menghantamkan gitarnya ke stand microphone, lalu amplifier di sampingnya disogok2nya sampai berlubang, dan klimaksnya dia membanting gitar elektriknya sampai pecah jadi tiga keping.

Saya cuma melongo, 'WHO THE FUCK IS THIS GUY?'

Karena di rumah tidak ada Laser Disc, setiap kali ke rumah pakdhe, pasti video itu saya putar dengan 'Repeat' mode on. 

Saya belum dengar lagu-lagunya yang lain, sampai saya ulang tahun di tahun berikutnya, dan adik perempuan saya memberikan kado. Ketika saya buka, itu adalah kaset Nirvana yang sampulnya gambar bayi, telanjang di dalam air, tititnya kelihatan, dan ada uang satu dolar di depannya.

Album itulah yang merubah perspektif saya terhadap apapun yg berhubungan dgn musik. Bermusik itu kebebasan, dan saya mulai belajar teriak2 di kamar agar menyerupai suaranya. Mencoba menjajaki kebebasan yang dia selami. Ketika suara saya habis, suddenly I felt awesome.

Saya mulai tanya ke orang2 tentang orang ini. Teman satu SMP saya bercerita,
"Dia udah mati lho, bunuh diri pake pistol di atas panggung!"
Satu teman berargumen,
"Nggak loh.. Dia ditembak mati istrinya waktu lagi manggung!"

Semua terjawab ketika saya migrasi ke Jogja di akhir 2002. Bahwa dia sudah meninggal tapi bukan itu sebabnya, dan bukan di panggung, melainkan di rumahnya. Ketika membaca buku Heavier Than Heaven kegilaan saya pada orang ini makin meruncing.

Di tahun itu pula saya memutuskan belajar gitar dgn tangan kiri, karena satu tahun belajar pakai tangan kanan, permainan saya masih jauh dari istilah standar. Dan dengan dia yg left-handed. Itu menjadi semacam motivasi. Nothing is impossible. Dan keputusan saya memang benar.

Kau tahu, dengan bernyanyi, apalagi berteriak. Bentuk emosi apapun, bisa tersalurkan. Anger, fear, sad, joy, anything. All you have to do is scream. You'll find your freedom.

Sejak baca buku itu pula, saya jadi hobby menuliskan sesuatu. Waktu SMA sampai awal kuliah itu banyak sekali lembar2 biodata yg harus diisi. Dan di baris cita-cita, jawaban favorit saya adalah mati muda. 

Saya jadi berpikir, 'makhluk macam apa saya dulu waktu remaja?'.

Salah satu teman SMA saya, (yg dulu sering numpang bolos di kamar kost, dan tanpa sepengetahuan saya juga sekaligus numpang onani) jika ketemu masih sering bercanda,

"Loh kok masih hidup tse'??"
"Loh tse' kapan matimu??"

Dan masih banyak 'Loh tse' 'Loh tse' yang lain.

Tapi di atas semunya itu, lewat main musik, saya jadi bertemu lebih banyak orang. Belajar banyak hal yang tidak ada di buku pelajaran. Ada kehidupan lain yang selalu menunggu, setelah seharian dijejali kuliah pergigian. And it feels like.. Home.

Kurt Cobain meninggal di usia 27. Sama dengan umur saya sekarang. Bedanya, di umur itu dia memasukan moncong pistol ke mulutnya sendiri, menarik pelatuknya, dan dalam sekejap, ia sudah tak bernyawa. Saya sendiri, lately lebih sering memasukan tang ke mulut orang, mencabut giginya sampai berdarah. Lucunya, setelah kehilangan gigi, orang-orang itu malah mengucap alhamdulillah. Tidakkah hidup ini indah?.

He's gone, and I'm still alive. 


So, happy birthday Kurt. Thanks for your music and inspiration.
Read More …




It was five years ago today. Satu lembar A4 dan marker hitam, tergeletak di lantai. Seperti ritual di pagi-pagi sebelumnya, aku akan duduk di depannya, menyilangkan kaki, bersama akustik di pangkuan.

Ide datang dan pergi sesuka hati. Enam puluh menit rata-rata dan HVS itu akan ditinggalkan kosong. Tangan memainkan nada-nada asal, dan mulut meracau tak jelas sampai kelelahan. Seperti biasa. Entah sudah berapa hari.

But it's a different morning actually. Di bawah anomali cuaca yang tak kunjung sudah, I felt an amusement. Seperti memaksakan, lalu muncul gravitasi di antara kertas kosong, spidol, gitar kayu dan sesuatu yang bernyanyi di kepala.

In the next five minutes, satu halaman itu sudah penuh dengan coretan. Lima menit berikutnya notasi menyusul. Setelah itu I wondered, "Weh uwis iki? Lagunya gini aja?"

Fitur rekam suara di handphone membantu benar untuk mengingat. Lalu kunyanyikan dari awal,
'Mulai cemas aku memikirkanmu.. Kau pergi tanpa..'

"What? Jacket??"

I started laughing. It surprised me. Finally I'd created a pop song. A love song, tanpa ada kata-kata cinta di dalamnya.

Ternyata harus berulang kali. Selain faktor 'amuse' tadi. Bisa jadi di hari ke-30 kamu mencoba, atau 3 bulan setelah terus berusaha. Dan sepuluh menit di hari itu, akan terasa sangat sepadan.

What come from the heart will touch the heart.

---

dengarkan di sini

atau tonton ini


Read More …


Composed by: Nova Abdillah
Co-written: Alfina Shofa

Hey! Nanana Hey! Nanana hey! Nanana Heyyy!

Please don’t be a hypocrite I know you’re a fraud
You rip off people’s shit just like me
I don’t give a fuck because I am a fraud
Does it resemble your line?
Your line, your line, your line..

Hey! Nanana Hey! Nanana hey! Nanana Heyyy!

Hypocrite, don’t be a hypocrite (2 times)

You’ve got it when you’re sailing
This habit’s pushing me down and down and down
A degradation of the mind
I need to love someone..

Hey! Nanana Hey! Nanana hey! Nanana Heyyy!

Man, we got no money and piracy is killing us, we’re composing symphony of fucked up shit! 
Read More …


#Unplugged Series kedua.

Setelah beberapa bulan lalu kami menyambangi hutan lalu ke pantai dengan tracksendu yang di ambil dari EP pertama alterego, Cemas. Kali ini kita kembali masuk ke rumah, intinya masih sama, memainkan lagu secara live dengan instrument akustik, semampu kami, berusaha semaksimal mungkin, sambil direkam both audio dan visual. Lagu Hey, adalah materi baru yang belum pernah direkam dan dirilis sebelumnya. Jadi ini adalah bonus, atau bocoran salah satu lagu yang nanti akan muncul di album Black and White.



Read More …



Sedekat apa dirimu dengan alam? Terkadang karena kita sudah terlanjur merasa dekat, tanpa sadar kedekatan itu justru menjauhkan. Dekat tapi jauh. Saling mengenal namun urung bertegur sapa.

Aku melewatkan masa kecil disana. Sembilan tahun, di salah satu lembah, di tepi kali, di antara himpitan bukit yang mata ini bahkan tak mampu menjangkaunya sekaligus. Hijau. Luas sekali. Hiburan setiap pagi dari jendela ruang tamu. Kaldera yang tak pernah bosan menyapa orang-orang di bawahnya.

Pertanyaannya adalah apakah kamu pernah naik ke atasnya, merasakan kaki-kakimu kotor bersentuhan dengan tanah dan rumput yang tingginya melebihi lututmu?. Aku pernah. Sekali. Dan membuatku sembelit saking dinginnya. Aku ingat betul perasaan itu. Perut melilit. Usus seperti dipelintir. Rerumputan begelinjang senang menertawakanku. Angin pegunungan menusuk-nusuk kulit yang biasanya tertutup celana. Matahari pun ikut mengejek, ia menolak hadir sebagai sunrise seperti biasanya.

Sekarang saya dua enam, pengalaman beberapa tahun lalu adalah yang pertama sekaligus terakhir. Orang pegunungan macam apa kamu itu? Mendaki baru sekali. Bukit. Bukan gunung. Hhh.. Like I care. Tapi aku peduli, seperti halnya wabah Instagram yang semakin menggeliat, menggerogoti iman para pecandu-pecandu foto di dunia maya. Ada yang kawakan, banyak juga yang dadakan. Dan di salah satu fitur sosial media itu lah, pertengahan tahun lalu aku dikasih pamer sebuah panorama yang membuat mulutku menganga, lalu berujar,

“Ini di mana man? Mirip Bromo..”

“Ini dekat sini Tse’! Naik motor 15 menit, lanjut mendaki 25 menit. Udah deh, sampai..”

“Masak sih?? Kok aku nggak pernah tahu”

“Payah tenan kowe ki!”

“Emang kamu udah pernah kesana??”

“Belum..”

Kemudian gelut.

---

Aku menemukan teori baru bahwa, sekalinya berkunjung kesana, pasti akan ada episode kesana yang kedua atau kesana yang ketiga. Akhir Februari menjadi saksi. Betapa aku dan saudara perempuanku berangkat terlalu pagi. Menahan dingin dini hari yang bisa mencapai  7⁰ C, berkendara roda dua menantang angin. Alam tetap berkuasa, kulit tetap ditembusnya.

Pukul empat, kami sudah di tanah lapang, lahan parkir yang dikelilingi kedai-kedai dari kayu. Ibu muda terlihat sedang sibuk di salah satu kedai sederhana. Ia baru akan memulai hari.
“Pagi sekali mas, ngopi dulu biar anget badannya..”

Menolak halus. Kami mulai melangkahkan kaki di atas jalan bebatuan. Seperempat perjalanan, sedikit pendakian sudah ngos-ngosan. Gulita di kanan kiri. Khawatir salah arah. Saudara perempuanku menyesal tidak memakai sepatu. But life must go on. Setelah hampir setengah jam, tepat saat adzan subuh berkumandang, kami sudah berdiri di salah satu puncak kaldera ini. Iya benar, kami kepagian. Langit masih hitam. Yang mengagetkan adalah ada bapak-bapak sudah nangkring di situ, lagi-lagi menawarkan kopi hitam panas. Akhirnya kami minum kopi sambil menatap gelap langit pegunungan. Syahdu.

Sepuluh menit kemudian, kaki sudah berpindah pijakan, ke puncak lain yang paling tinggi dataran ini ini. Kurang lebih 2300 dpl, di desa tertinggi se-provinsi. Ternyata sudah ada yang sampai duluan, sepasang kekasih yang akhirnya aku tahu mereka naik bis dari Jakarta, dan empat cewek berbahasa asing. Dingin? Tentu. Mulut seperti keluar asap setiap kali kami berbicara. Cuaca mendung memancing kekecewaan. Kami sudah menduganya sejak masih di rumah. Namun kamera handphone tetap tidak boleh dimatikan. Demi Instagram yang menjanjikan ke-eksis-an (sekaligus kehampaan, -red).

Hey lihatlah, hitam awan itu akhirnya terbelah oleh cahaya.


Pelukismu agung siapa gerangan. Sun-rise oh sun-rise.. ciptaan Tuhan.

Kami sibuk dengan kekaguman kami sendiri. Serpihan tanah basah yang melekat ujung celana adalah perkenalan. Semacam ‘get along together’ dengan alam semesta. Sekaligus awal obrolan juga dengan mbak-mbak dari Jerman.

“Do you want some?” she said,

“What is it?”

“It’s a hamster food!” laughing, “Just try it.. It’s kind of.. Peanut??” asking, “But for human.”

“Hahaha..”


Kamu harus menghirup udara yang aku hirup. Biarlah posesif. Namun tidak ada udara segar seperti di sini. Waktu sudah menginjak di enam tiga puluh, ketika kami beranjak turun. Sesekali berhenti untuk mendalamkan obrolan dan mengambil gambar. Ada view yang dengan sentuhan Apps, bisa terlihat seperti lukisan.


Sebuah pagi yang kaya akan warna. So, apa yang kamu dapat? Foto matahari terbit? Klise!. Tubuh yang merasakan, foto tidak cukup untuk menggambarkan mengapa orang bisa ketagihan.

Siang menjelang dhuhur, kuartet dari Jerman itu tidak berbohong. Ada telepon berdering, disusul suara excited di belakangnya.

“Hey! We’re here, at the green mosque.”

Dari tempat mereka menginap, membutuhkan waktu sepuluh menit naik bis mikro untuk mencapai desaku. Salah satunya sedang mencoba minuman buah Carica, ketika aku menemukan mereka. Orang-orang di sekitar terpukau dengan kehadiran mereka. Jalan kaki bersama cewek-cewek Kaukasoid ke arah rumah tentu menjadi pemandangan menarik bagi penduduk desa. Mereka yang sedang mencari matahari, berjubahkan sarung seperti Superman, nangkring di pinggir jalan dan minim hiburan. Beberapa berteriak,

“Hoee. Londho londho!” (Londho, dicomot dari kata Be-landa. Sebutan untuk bule di daerah sini. -red)
Bakalan meriah nih.. tertawaku dalam hati.

“That’s my friends!” Kataku sambil menunjuk segerombolan pemuda pengangguran di seberang jalan.

“Oh.. helloooo!” seru teman-teman baruku. Lalu tertawa.

Yang disapa sumringah, kami disilaukan oleh cahaya kuning cokelat gigi-gigi mereka.


Dari kiri: Claudia, Nova, Martha, Iva. Satu lagi yang motret.. aduh lupa namanya. Susah dihafal euy!.

Mereka penggemar makanan Indonesia. Tentu saja. Apalagi bakwan dan tempe kemul (mendoan pegunungan). Iva bertanya apakah capcay yang akan ia makan mengandung daging. Dia vegetarian. Dan ternyata banyak hal yang bisa jadi bahan obrolan, karena dasarnya memang suka ngobrol. Ledakan tawa sesekali mengiringi. Ah, mereka membawakan Ibu dan saudara perempuanku perfume.

“Duh, jangan-jangan jodohmu orang barat nanti..”  Ibuku berujar. Khawatir.

Masing-masing lalu bercerita tentang pekerjaan, dan daerah asal masing-masing. Aku seperti sedang mewawancarai calon pegawai. Lalu Bavaria dan Bavarian menjadi topik hangat percakapan berikutnya. Mereka memberiku Post-Card. Dari gambar di kartu pos itu, mengalir cerita ke spot-spot yang tak terbayangkan sama sekali. Aku jadi ingin sekali pergi kesana. Tiba-tiba hujan turun deras. Kesempatan pamer masih ada. Mereka menyukai video klip Whatever You Say.

“Apakah kamu menaruhnya di Youtube? What’s your band name? It’s awesome!” Cecar yang tidak kelihatan di foto.

Aku meleleh.

---

Juli, atas dasar pengalaman orang-orang rumah, dan juga Agustus selalu menjadi yang terdingin di antara dua belas bulan yang ada. Mereka bilang, tebal embun terkadang bisa menyerupai salju. Ada yang menumpuk di atap rumah yang berbahankan seng, lalu kisaran pukul delapan akan mencair terkena sengat matahari, mengalir perlahan, jatuh deras ke daratan. Seperti guyuran air hujan.

Sabtu malam pukul sembilan kurang sebelas, di bawah sparkling gugusan bintang yang nampak begitu terang, kami bagaikan kunang-kunang yang sedang berkejaran. Satu nyawa, satu mesin. Kendaraan yang ber-kofling adalah keuntungan, rekanku mengekor di belakang dengan apa yang disebut motor bike without ‘teeth’. Matic. Jalan aspal menanjak ini adalah yang paling menanjak, sekaligus berliku, warga menamainya area lima belas persen. Gardu pandang ke atas. Sayup-sayup aku mendengar bunyi klakson berbunyi berulang kali dari arah belakang, bukannya melebarkan telinga, namun aku justru mengurangi gigi dan menambah volume gas.

“Tega kamu mas tadi ninggalin.. Aku klakson nggak denger pho? Hampir mati tadi di belakang.. Jari-jari tanganku udah nggak kerasa, nafasku sesak mas.. rasanya mau jatuh dari motor tadi..” Grutu rekanku begitu sampai depan rumah, sambil cengar-cengir.

“Hahaha iya kah? Emang lagi dingin banget nih.” Jawabku santai.

Pagi hari, jalan mendaki sudah menanti kami lagi, ikut serta pula saudara perempuanku. Jika Februari kami terlalu pagi, maka Juli kami terlalu siang. Pukul enam kami baru naik, melawan arus karena justru banyak orang yang sedang berjalan turun.

“Udah kesiangan mas.. sunrise-nya udah abis..” Beberapa bersuara seperti ketika berpapasan.

Aku cuma tersenyum. Tapi tetap ada Screw You dalam hati. We’re not looking for sunrise anyway.

Menjelang ramadhan, bukan hal yang mengagetkan jika kaldera ramai penuh pendatang. Beberapa menginap dari semalam, membangun tenda. Di sekitar terlihat sisa-sisa api unggun, terlihat serakan bungkus Pop Mie, botol air mineral kosong dan plastik, lalu plastik, lalu plastik. Kemudian banjir. Tanah longsor. Jembatan lima belas persen runtuh separuh. Alam murka.

So, Fuck You pribumi untuk tidak membawa kantong sampah sendiri!.

Aku bersyukur karena bangun kesiangan. Keramaian jauh sudah berkurang. Alam semesta tersenyum menyambutku. 


Kami melompat ke gundukan lain. Sejenak, Hyperballad milik Bj√≥rk terngiang di telinga. There’s a beautiful view.. from the top of the mountain. Tapi demi Tuhan yang maha luas, aku sama sekali tidak ada niat untuk melompat, apalagi sampai imagine what my body sound like, slamming against those rocks.

Jepretan kamera handphone-ku jadi idola di Instagram dan Path. I felt like a successful hamster! Ups.. Hipster!. Yang ada hanya decak kagum, Subhanallah, bagaimana lansekap itu dibuat sedemikian rupa indahnya. They took our breath away. Kamu perhatikan, sebelah kanan adalah rumah gubuk yang pernah aku ceritakan.

Di gundukan lain, kami berdiri di atasnya. Udara menjadi tak begitu dingin, kami masih berkeringat akibat perjalanan pendakian, dan sinar matahari terlihat begitu dekat, sekaligus menghangatkan.


Lihatlah hamparan ladang kentang itu menguning karena cahaya mentari pagi. Danau di bawahnya, yang terlihat seperti berwarna silver kecoklatan, di atasnya terbentuk bayang-bayang bukit yang mengerucut. Beberapa, lewat sosial media mulai marak bertanya, “Kamu sedang mendaki gunung?”. Spot pojok kiri bawah yang hampir tak terlihat itu adalah tanah lapang untuk parkir kendaran, dan juga warung-warung kopi. Maka kuasa Tuhan mana lagi yang kamu ragukan?.

Aku jadi ingat ketika Claudia bertanya lima bulan lalu,

“What’s the name of that lake?”

“Well.. hmm..” aku berpikir, thinker brow

“Well..?” 

“Well.. I don’t know..” menyerah

“It’s ok, no problem..” She said. Smiling.

Aku merasa gagal menjadi guide.

---


Tak ada yang tertinggal. Langit selalu menunggu. Biru putihnya, sejenak membuatmu mampu untuk berjalan di atasnya. Ada kedamaian yang menuntunnya menjadi sebuah lamunan. Spektrum warna yang tertangkap oleh retina begitu sempurna. Jangan-jangan kita yang kurang pandai bersyukur. Mungkin lupa diri. Tinggi hati. Selalu melihat yang lebih tinggi. Bahkan Sindoro masih terlihat lebih tinggi. Yang pasti Tuhan maha tinggi.

Perjalanan pulang. Di jalan utama yang lebarnya hanya satu kaki dan bertepikan jurang itu, aku bertemu teman masa kecil. Kulit gosong a dinas gunung, sepatu karet AP Boots, tapi sudah lusuh, serta kantung cokelat besar di pundaknya. Tersenyum melihatku.

“Nyari kayu?” Tanyaku basa-basi

“Oh nggak.. Ini buat sampah-sampah yang ditinggalin di atas, mudah-mudahan muat,” jawabnya.

Kantung itu cukup untuk membungkus badanku, ditali mati, lalu dibuang ke kali.

“Anak-anak daerah sini biasanya yang suka ninggalin sampah sembarangan. Seenaknya sendiri, merasa memiliki tapi nggak membumi. Turis-turis dari luar kota dan luar negri, bukannya mbandingin tapi mereka tahu diri, lebih menghargai dan sadar diri..” lanjutnya lagi. Aku mencoba berempati.

Lima menit kemudian kami berpisah. Ia melanjutkan naik. Kami melanjutkan turun. Meninggalkan satu titik di 2300 dpl yang sudah mulai komersil.

Ah, harusnya aku memotretnya tadi! Buat instagram!.

Read More …