a l t e r e g o s e n s i t i f



1
2
3

---

Redaksi Dental&Dental
HP : 0878 385 0000 8
Tlp : 0274 - 581832
BB : 528e19e6

Alamat : Jl. Kartini no.2 Sagan, Yogyakarta












Read More …

The moment when you’re about to jump off the boat. It was surreal. Kamu bahkan tidak menyadari, untuk beberapa detik selanjutnya ubun-ubun rambutmu sudah setengah meter di bawah permukaan. Air garam perlahan berpentrasi melalui celah-celah kecil regulator, sampai menyentuh bibir dan lidahmu. Asin.

Everything is blue, everything is water. “Apakah saya akan baik-baik saja di bawah sana?”, “What kind of creatures I’m going to meet down there?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan berputar, memenuhi kepala, sembari menunggu dive buddy kamu melakukan giant step.

“Are guys ready?”. Jika ada yang berteriak seperti itu, berarti sudah saatnya kamu mengempiskan udara di BCD. Perlahan tapi pasti, tubuhmu akan semakin ‘tenggelam’. Bagiku rasanya seperti melayang-layang, tetapi di dalam air.

So quiet. Liberated. Then, you’ll hear nothing but your own breathing.



---

Beberapa tahun sebelumnya..

Tak lain tak bukan adalah Kaka. Vokalis Slank. Yang dulu ceking, dan membuatku malas makan biar juga tetap ceking. Yang gigi-gigi depannya geripis, hitam, jelek sekali dan juga membuat saya malah gosok gigi. Biar apa? Biar kayak Kaka! Sebegitunya. Iya, Kaka bagaikan nabi. Yang harus diikuti.

Pernah dengar lagu Aborsi dari Illegal Motives? Nah, itu juga inspiratul maut dari Slank. Dan masih banyak lagu yang lain, contoh yang cukup familiar; “Cemas” nya Alterego, coba yang nyanyi Kaka, pasti jadi lagunya Slank. Haha. Piss!

Untung saya masuk kuliah Pergigian Dokter, jadi gigi-gigi saya secara tak langsung terselamatkan. Karang-karang tebal nan adiluhung yang sudah bertahun-tahun meradangi gusi dan bikin bau mulut, kandas di tangan teman seperjungan saya dulu waktu Koass. Mulut saya berdarah-darah waktu itu.

“Ya ampun Dibby! Karang gigimu Mashaallah!” begitu komentarnya.

Tapi lain dulu lain sekarang. Everybody’s changing my friends. Termasuk juga Kaka idola saya. Body-nya yang dulu ceking, dan sewaktu saya nonton Slank di Boshe tahun 2010 badannya sudah tegap, perut sixpack. Atletis-lah pokoknya. Apa kabar giginya? Jadi putih, bersih, berbaris rapi. Ajaib. Senyumnya jadi tidak menakutkan. Beliau kelihatan lebih muda, juga enerjik.



Saya terinspirasi juga akhirnya itu. Pergi ke apotik, beli obat cacing lalu ke Gym, daftar untuk latihan kebugaran. Damn! Baru satu bulan sudah menyerah. Ambruk. Mungkin memang tidak berbakat perut kotak-kotak.

---

Aku masih meyakini, satu-satunya olahraga yang menyenangkan yang bisa aku lakukan adalah Stage Diving. Kamu berdiri di tepi panggung di acara konser musik, entah itu ‘kosongan’ atau sambil menggendong gitar, lalu dengan sekuat tenaga kamu melompat sambil memutar badan ke arah kerumunan penonton yang juga sedang sibuk sendiri-sendiri. Jika untung, maka kamu akan merasakan telapak tangan-tangan manusia itu dipunggungmu, menopang, mengangkat tubuhmu, membuatmu berputar-putar cukup lama di atas kepala orang-orang, hingga akhirnya diturunkan pelan-pelan. Puas sekali rasanya.

Tapi jika sedang buntung, ya wasalam. Bisa jadi kepala, atau kakimu yang cidera.



Sampai tahun 2012, saat media sosial Instagram mulai mewabah di Indonesia. Pun, orang semakin banyak jual lagu secara digital, terutama via iTunes. Dan gilanya, mereka jual tujuh ribu rupiah per lagu, itu setara dengan harga satu album Slank – Lagi Sedih waktu saya SD dulu. Aku ingat betul itu, karena belinya pakai uang SPP yang dikasih ibu.

Dulu dapat macam-macam, ya kasetnya, sleeve-nya yang banyak tulisannya itu, kadang Slank juga nyelipin bonus di kaset seperti pick gitar dan celana dalam. Generasi 90an itu adalah seberuntung-beruntungnya generasi. Everything was real.

Kembali ke Instagram. Ada yang follow Kaka? Dia pakai nama akun @fishgod. Dari namanya saja sudah Dewa Ikan. Pasti berhubungan erat sama yang namanya laut. Dan benar saja, selain posting video caranya berolahraga di dalam rumah, dan beberapa foto Slank di backstage. Kaka posting foto dirinya sedang diving. Yes, Scuba Diving yang pake masker dan oksigen di punggung itu. Belum lagi foto aneka flora dan fauna bawah laut. Hatiku tergetar.

Tahun itu Kaka memang lagi senang-senangnya menyelam. Sering juga dia mengunggah sketsa-sketsa biota laut, terutama gambar hiu dengan hashtag #SaveShark. Kalau aku pikir, memang ada juga masa jenuhnya, naik turun panggung, menyanyi di sana-sini, sampai Jakarta mikirin materi album baru, masuk ke studio, rekaman lagi, lalu promo lagi. Dan itu dia lakukan dari tahun 1990.

Sewaktu melihat foto dan videonya di dalam laut. Aku seperti melihat seperti sosok lain. Bukan lagi Kaka vokalis Slank, tapi bener-bener jadi dirinya sendiri. Bebas.

Maka di tahun yang sama pula, aku melafalkan niat yang sungguh-sungguh dalam hati, “Harus bisa diving biar kayak Kaka!”

Tapi, bagaimana mungkin, berenang saja saya tidak bisa.

Slanker sejati tidak mudah kecil hati. “JURUS TANDUR”, Maju Terus Pantang Mundur! Kan gitu kalau Bim2 teriak lewat microphone dari balik perangkat drumnya waktu lagi manggung.

Lalu apa yang saya lakukan? Pergi ke toko olahraga ditemani adik saya. Beli kacamata renang dan papan pelampung kecil yang biasa dipakai anak TK untuk latihan berenang. Mbak penjaga tokonya tertawa. 
Memalukan memang, tapi mau apa lagi. Demi diving di masa depan.



Seminggu sekali, kadang dua kali saya latihan di kolam renang IKIP Yogyakarta, sampai berbulan-bulan. Bahkan pernah meminta bantuan mahasiswa jurusan olahraga untuk mengajar saya berenang gaya bebas yang baik dan benar.

“Kakinya jangan kaku-kaku mas!”

“Kepalanya nunduk lagi itu! Nafasnya jangan cepet-cepet!”

Susah amat ya berenang. Coba Kurt Cobain masih hidup, dia kan guru renang.

Belum lagi sudah berapa gallon air yang sudah masuk ke perutku dalam kurun waktu itu, mungkin juga sedikit campuran air kencing para pengunjung lain. Dan setelah cukup lama berlatih, saya mulai melepas papan pelampungnya, alias tangan saya tidak pegang apa-apa lagi, tapi belum sampai sepuluh meter aku sudah keplepek. Tersedak. Spontan batuk-batuk. Sedih.

Impian untuk bisa diving, seperti menjauh.

---

Tahun berikut. Di bulan Oktober, takdir menempatkan saya ke sebuah kota kecil di provinsi Kalimantan Timur. Sangatta. Kota yang belum lama muncul di peta, jadi ya memang dimaklumi kalau saudara-saudara jadi mengernyitkan dahi seperti mendengar sesuatu yang asing. Astral.

Kamu tahu ngapain saya disini?

Tidak jauh-jauh juga dari aktifitas permulut gigian, gadhul dan nanah di gusi-gusi pasien yang malas gosok gigi. Setiap hari, mata saya memicing ke gigi-gigi mereka yang berlubang, rasanya kepala seperti tenggelam di lautan air ludah di bawah lidah.

Dan seperti halnya Kaka, aktifitas yang sama terus menerus dilakukan tanpa jeda juga akan memunculkan perasaan jenuh.

---

Delapan bulan sudah aku berkubang ‘lumpur’ dalam mulut orang-orang. Beruntung aku nemu kolam renang sungguhan di sini. Sebisaku, mengingat teknik renang  saya pelajari di Jogja dulu, aku mencoba berlatih renang lagi. Meskipun dengan gaya bebas yang masih belum bisa disebut pas-pasan.

Bersyukur, tepat di bulan Mei 2014, dua orang kawan baik dari Samarinda, Dee dan Kori mengajakku pergi ke pulau sebelah. Sulawesi.

“Biar otak nggak spaneng boi! Lemesin juga urat-urat lehermu!” kata mereka.

Pemerintah Daerah Gorontalo tidak berbohong. Slogan ‘The Hidden Paradise’ yang terpasang di bandara memang benar adanya. Indonesia adalah Negeri yang kaya raya. Pohon kelapa di mana-mana, nyiur melambai. Aduhai.

Di sana, tepatnya di taman laut desa Olele, saya berkesempatan untuk mencoba Snorkeling untuk pertama kali. Lautnya biru sekali. Gaya ya, berenang aja belum bisa. Tapi aku jadi tahu apa bedanya snorkeling dan diving.

Memakai wetsuit, masker, snorkel dan fins (kaki katak) adalah hal yang baru bagi saya. Tapi kata bapak yang menyebut dirinya Cina Swasta, sekaligus kami di sana,

“Tenang saja mas, nanti kami ajari..”

Dengan kapal modifikasi dari bambu dan kaca, yang dirakit sendiri oleh orang desa sana. Kami dibawa agak menengah, menjauh dari bibir pantai. Dan benar, pemandangan terumbu karang dan ikan-ikan warna warni yang berenang di antaranya, membuatku lupa sama sekali penyakit-penyakit pasien di poli gigi. Kejenuhan begitu saja terobati. Padahal baru di kedalaman 1-2 meter, lho.

“Kakinya jangan kaku-kaku mas!”

Lagi-lagi kudengar kalimat itu.

Ada untungnya juga, beberapa minggu sebelumnya aku rajin ke kolam renang. Meskipun cuma sekadarnya, ternyata membuat badan kita lebih terbiasa dengan air. Aku tidak berani jauh-jauh dari tali yang diikatkan di kapal. Takut kepayahan lalu tenggelam.



Dari Gorontalo, besoknya kami berpijak menuju Sulawesi bagian tengah, memotong jalan menumpang kapal Fery dan berhenti di pulau Kadidiri.

---

Kadidiri yang indah bukan buatan teman. Di pulau ini, menjadi awal perkenalanku dengan dunia scuba diving. Asik ya?

Satu kali dive dipatok dengan harga 500ribu. Mahal juga ternyata, tapi ya sudah jauh-jauh masak nggak nyobain. Kami iyakan saja.

“Sudah pernah snorkeling sebelumnya?” Tanya Pudin, selaku dive instructor

Kami mengangguk.

Tentu saja aku ingat, sehari setelah snorkeling di Gorontalo, aku snorkeling lagi di komplek pulau tetangga dari Kadidiri. Demi Tuhan, rasanya seperti mau mati. Percaya diri yang berlebihan, aku tidak memakai wetsuit, fins, apalagi rompi safety. Cuma koloran, lalu masker dan snorkel. Dan ternyata apa, arusnya besar. 

Aku terseret jauh dari kapal, yang juga terlihat menjauh. Snorkel mulai bocor, aku panik, air banyak kutelan. Harusnya tinggal mengapung saja, tapi aku malah berusaha berenang melawan arus ke arah kapal. Aku tidak kuat.

Pemandangan di bawah sana terasa lebih jauh. Aku melihat wajah ibuku.

Ya Allah, jika memang harus berakhir disini, maka ampunilah dosa-dosaku

Dalam ratapan yang cukup mencekam itu, kusadari perahu mendekat. Salah satu kru, menarik tanganku.

“Ada yang tidak bisa berenang?” tanyanya lagi, membuyarkan lamunan

“Saya mas,” jawabku

“Oke nggak papa, yang penting jangan panik”

Jantungku berdebar. Gugup tak tertahan.

Secepat ini kah saya menyusul Kaka diving? Tanyaku membatin.

Mas Pudin kemudian mengenalkan seperangkat alat selam, dimulai dari masker,

“Apa fungsi masker?” dia bertanya,

“Biar tidak kemasukan air mas, mata dan hidungnya!”

“Pintar sekali!”

Sesaat, kami berasa jadi anak SD.

Lalu dia mengenalkan Regulator,

“Alat ini yang nantinya akan kalian gunakan untuk bernafas selama di dalam air. Nafasnya pakai mulut, jadi hidungnya istirahat dulu,

“nanti digigit tapi jangan kencang-kencang ya, nah regulator ini tersambung ke tabung udara yang dipasangkan ke BCD.”

“Apa itu mas?” Tanya Kori

“Buoyancy Control Device. Pengendali daya apung mu nanti selama menyelam, jadi bisa dikembangin, dan begitu akan turun ke bawah bisa dikempesin. Ini bentuknya kayak rompi,

“Dan terakhir adalah weight belt, sabuk yang diberi pemberat, sesuai dengan keperluan, memudahkan badan untuk turun”

Susah juga menghafalnya. Karena memang baru kali ini dengar istilah-istilah seperti itu.

“Jadi ini pertama kali kan kalian diving?”

“Saya sudah pernah mas, beberapa bulan lalu di pulau Weh” jawab Kori,

Sementara aku dan Dee, baru akan.

“Karena kalian belum punya lisensi, maka ini disebut trial, atau discovery scuba diving, paling nanti sampai 13-15 meter..”

Kami manggut-manggut,

“Oh iya, satu hal lagi. Begitu sudah turun di air, nanti telinga kalian akan terasa seperti tertekan, nah untuk itu harus disiasati dengan equalize, biar tidak sakit”

“Equalize?”

“Jadi, setiap satu meter kalian akan melakukan equalize, mengambil nafas lewat mulut, lalu mengeluarkannya lewat hidung, tapi kalian tutup dengan jempol dan telunjuk, biar udaranya pop-out lewat telinga.. begitu terus, sampai telinga terasa nyaman dan tidak sakit lagi. Oke?”

“Oke mas,” jawab kami kompak

Tanpa disadari, perasaan takut malah muncul.

“Well, cukup dari saya. Sebentar akan ada satu lagi instruktur yang menemani..

Pintu ruangan terbuka, lalu ada yang masuk, “Oh, ini dia orangnya”
Ternyata orang kulit putih.

Dia datang, tersenyum kepada kami, mengajak jabat tangan,

“Atse” sapaku,

“Asu” jawabnya mantap,

“Who??” aku kaget,

“My name is Asu”

Kami bertiga saling melirik. Menahan ketawa. Asu kemudian mengambil secarik kertas, dan menuliskan namanya.

“AXU”

Mulut kami ber-ooo panjang.

“Axu, where are you come from?” Tanya Dee, sambil nyekikik

“I’m from Finland. Nice to meet you,

“OK guys, we’re gonna have some fun!” Axu memberi semangat.

---

Kami menyelam selama 45 menit, setelah sebelumnya di kedalaman 2 meter, kami diajari dulu skills ‘mengeringkan’ masker jika air masuk ke dalamnya, dan bagaimana mengatasi jika regulator yang kita gigit lepas dari mulut.

Axu benar, It was really fun. Brand new experience. Meskipun air nya tidak sejernih di desa Olele,  jarak pandang tidak terlalu jauh, tapi aku sempat melihat udang besar yang warnanya biru campur kuning. Waktu dikejar mas Udin untuk difoto, dianya masuk ke sela-sela bebatuan.

Sebenarnya yang membuat mengesankan adalah, bagaimana keadaan membuatku bernafas di dalam air lagi. Bukankah di awal kehidupan, Sembilan bulan lamanya kita pernah tinggal di suatu tempat, kalau tidak salah rahim namanya, dan selama itu kita bernafas di perairan plasenta. Bukankah itu juga air? Jangan-jangan kita adalah salah satu jenis reptilia. 

Di antara kepak kaki fins yang masih sering kali menabrak kerang-kerang tak berdosa, sesekali aku berdiam ditempat. Menggerakan badan, serong kanan kiri, memutar, mendengarkan nafasku sendiri, “finally man, I’m in the water!”. Meskipun masih takut-takut sebenarnya.

Malam harinya. Badan benar-benar terasa seperti patah-patah.



---

Sesampainya di Sangatta lagi, obrolan tentang ‘sebaiknya ambil lisensi menyelam jika ingin lebih bisa eksplorasi’ masih saja terngiang-terngiang. Tapi dimana?

Ada yang menyarankan ambil di Bali, kami survey harga, masih terlalu mahal menurutku. Belum lagi tiket pesawatnya. Jauhnya. Urung jadinya. Lalu ada saran dari teman, “Di Jakarta saja!”, eh ternyata lebih mahal lagi. Atau di Bunaken? Mau saja sih, asal dibayari. Hehe. Enak aja!

Hingga penghujung tahun, belum ada petunjuk mendapatkan lisensi dimana.

Lalu suatu hari, selesai praktek malam, aku iseng mampir ke poli gigi satunya. Pintunya bersebelahan. Teman sejawatku masih merawat pasiennya. Aku duduk saja sambil mainan HP.

“Dok ini bisa pasang jaketnya kapan ya?”

“Paling cepet seminggu lagi, kan dimasukin ke lab dulu..”

“Iya soalnya minggu depan, minggu depannya lagi saya ada rencana mau diving, takutnya kambuh sakitnya pas di dalam”

Diving?? Aku tidak salah dengar? Pasien?

Daun telingaku melebar. Sampai jatuh ke lantai.

“Tenang mas, inshaallah sudah jadi sebelum itu” kata temanku yang dokter gigi, meyakinkan.
Memang kalau dari fisik dan perangainya, pasien ini terlihat terpelajar, tipikal orang office perusahaan batu bara.

“Suka diving juga mas?” tanyaku iseng

“Iya mas, eh dok! Hehe”

“Udah punya lisensinya juga?” aku makin penasaran

“Sudah mas, ini baru dapat 2 bulan lalu, tapi masih kartu sementara karena kartu aslinya belum jadi..”

“Wow..

Mataku berbinar cerah.

“Ambil dimana kursusnya?”

“Di sini aja.”

“Hah di Sangatta? Ada gitu?”

“Iya mas! Nggak percaya kan?”

“Masa sih??”

“Iya, di Aquatic Tanjung bara!”


Saya merasa bersalah, atas penghakimanku terhadap Sangatta selama ini.

Lalu Fabri memamerkan kartu temporary dive-nya kepadaku. Disitu tertulis;
‘PADI Temporary Card Open Water Diver’

Dipojok kiri kartu, di bawah foto diver, ada logo seperti globe, bulat, bergaris-garis rektangular, dan di tengah-tengahnya ada ilustrasi diver berwarna merah, seperti sedang menyelam membawa obor api. Gagah.

Sesuai dengan petunjuk mas Pudin, untuk divers license sebaiknya ambil di PADI saja. Professional Association of Diving Instructors. Yang konon katanya sudah terpercaya sejak dahulu kala.

Aku juga tidak percaya, sewaktu Fabri menyebutkan harga kursusnya.

“Percaya tidak percaya mas, kursus PADI di sini harganya paling murah sedunia!”

Dan yang terpenting, lokasinya pun dekat. Hanya setengah jam saja naik motor dari tempat tinggalku.

---

Aquatic adalah nama dermaga, sekaligus pantai di daerah Tanjung Bara di sini. Tanjung Bara sendiri dulu dikenal karena banyaknya ekspatriat dari perusahaan yang tinggal disana, pernah juga ada sekolah internasional untuk anak-anak mereka. Tapi sekarang jumlah ekspat sudah menyusut, dan gedung sekolah sudah tidak dipakai lagi. Beberapa lebih memilih menyekolahkan anaknya di rumah, alias Home Schooling.
Pernah, sekali saya ke Aquatic. Meninggalkan dulu tanda pengenal di pos sekuriti, karena memang kawasan ini dibuka untuk umum hanya untuk akhir pekan. Banyak monyet-monyet bergelantungan, di kanan kiri jalannya, kalau beruntung bisa melihat Bekantan. Cukup menghibur. Karena di pantai yang berbaur dengan hutan mangrove itu, kita tidak boleh berenang. Ada Buaya dan ubur-ubur beracun.

Untuk alasan itulah, saya masih tidak percaya adanya Dive Club di Sangatta. Sampai aku mengirimkan surel, ke alamat yang dikasih Fabri tempo hari, yang beberapa jam kemudian langsung mendapat balasan.

---

Sama halnya, aku yang tidak percaya ada PADI di Sangatta, begitu juga Dee dan Kori. Mereka  terbahak-bahak mendengarnya.

“Jangan-jangan itu penipuan? Coba sana searching dulu!”

“Itu Padi-padi an kah Tse’? Apa Padi jadi-jadian?!”

Tak henti-hentinya mereka tertawa. Apalagi mendengar harga kursusnya yang miring. Aku meninggalkan sebentar grup Imessage itu, karena agak kesal.

Tapi pada akhirnya mereka percaya, dan mau saja didaftarkan.

Di email itu, Pak Shane memberitahukan. Kemungkinan kelas akan di buka paling cepat bulan Maret 2015. Disamping menunggu student lain yang mendaftar sampai paling tidak 6-7 orang, kapal Barakuda yang biasa dikendarai untuk diving juga sedang dalam perbaikan.

Setelah saya kirimkan data diri, dan juga nomer sepatu, bapak dari Australia ini membeberkan syarat wajib yang harus dilalui untuk bisa mengikuti Diving Course. Yaitu;

‘Berenang sejauh 200 meter non-stop dan mengapung selama 15 menit (boleh terlentang atau mengkurap, kaki tidak boleh bergerak), atau berenang sejauh 300 meter non-stop dengan alat bantu masker, snorkel, fins dan mengapung selama 15 menit’

Man! Not again. Ada kata berenang, dan itu bermeter-meter!

---

Kamu percaya? Bahwa di saat kita sedang meniatkan sesuatu yang baik, dalam hal ini adalah kursus menyelam, alam semesta seperti ber-kongkalikong untuk membantu mewujudkan impian kita. Karena suatu sore di bulan Januari, tanpa sengaja saya dipertemukan dengan seorang guru renang di kolam renang yang biasanya. Namanya mas Gun.

Dia adalah tipe pengajar yang lebih bersemangat daripada murid yang diajarinya.

“Masih bulan Maret kan? Pasti bisa. 200 meter itu ringan saja.” katanya dengan logat Bugis-Indonesianya yang kental.

Aku menjadi percaya diri.

Risa yang bekerja di bagian Apotik, yang sudah mahir berenang gaya katak, ikut juga belajar gaya bebas. Meskipun sebenarnya, tidak dipersyaratkan 200 meter nanti itu dengan gaya apa, yang penting sampai saja.
Dengan latihan yang cukup intens, di bulan ketiga, aku sudah mengalami kemajuan yang cukup lumayan. Jika dulu, dua tahun lalu 10 meter saja tidak sampai, sekarang sudah bisa non-stop 50 meter gaya bebas. Bersamaan dengan itu, ada email masuk dari pak Shane, jadwal Dive Course diundur sampai awal bulan Juni. Yang mana, lebih menguntungkan bagiku. Lagipula, aku masih menabung 300ribu perbulan untuk dibayarkan pada saat selesai kursus nanti. Jadi kalau bulan Mei, jumlahnya sudah pas.

Sisa bulan dua bulan untuk belajar berenang. Tapi aku sudah yakin tidak akan bisa mencapai angka 200 meter non-stop, jikalau ‘telanjang’. Jalan satu-satunya adalah dengan memakai alat bantu, meskipun track nya jadi lebih panjang. 300 meter. Tidak apa-apa. Lalu saya memutuskan untuk membeli masker, snorkel, fins dan sekaligus wetsuit. Modal dikit, lah.

Pertama bertemu pak Shane, aku sedang mengantarkan kawan ke Bandara Tanjung Bara. Sebuah bandara private untuk perusahaan, dengan pesawat-pesawat kecil yang juga memiliki kapasitas kursi yang terbatas. Sepanjang jalan aku bercerita kepada kawan tentang kursus diving yang akan dimentorin oleh beliau. Dia bilang, bahwa pak Shane adalah atasannya. Dan secara kebetulan, manusia yang kami bicarakan tadi juga sedang Check-in berada di bandara yang sama.

“Nah itu orangnya.. coba saja samperin bro!” kata kawanku

Selama ini kami memang hanya komunikasi via email. Surprisingly, ketimbang seorang General Manager, pak Shane terlihat lebih mirip rocker paruh baya angkata Motley Crue, dengan rambutnya yang panjang dan kedua piercing di kedua telinganya. Dan selanjutnya kuketahui badannya juga penuh dengan rajah tattoo.

“Baik saja, tidak masalah berenang dengan alat bantu. Penting 300 meter”

Jawabnya, setelah sedikit saya berkeluh kesah tentang persyaratan berenang. Agak lucu dengarnya, karena bahasa Indonesinya rasa terjemahan Google. Tapi bertemu calon guru sebelum hari-H, menjadi lebih menenangkan, karena kita jadi tahu seperti apa karakternya, yang ternyata santai. Open minded.

Tinggal latihan aja nih, renang pakai snorkel, pikirku dalam hati

Tak berapa lama kami berpamitan, karena dia akan segera boarding tujuan Singapore untuk pekerjaan.



---

Juni 2015..

Saya tidak akan membeberkan secara luas bagaimana proses belajar mengajar Open Water Diver berjalan di dua kali akhir pecan bulan ini. Tapi di sabtu pagi, aku, Risa, Dee dan empat students lain sudah berada di dalam kelas di tepi kolam renang.

“OK guys. Saya harap tidak akan lama-lama di kelas. Semakin cepat selesai di sini, semakin cepat kita practice di kolam” kata Pak Shane memberikan penyambutan.

Dan benar saja, selasai bab 2 kami digiring ke pool untuk tes berenang terlebih dahulu.

Bagaimana hasilnya?

Berhasil! I did it! Ringan sekali rasanya berenang 300 meter dengan peralatan lengkap. Dengan mengikuti petunjuk mas Gun, jikalau berenang dengan menggunakan snorkel maka janganlah tangan juga ikut kamu gerak-gerakan. Cukup kaki saja.

“Dari pangkal paha sampai ujung kaki” katanya

Saat tes mengapung pun terasa seperti sedang tiduran terlentang di atas springbed. Anteng, hanya sesekali muka terciprat air dari kaki teman-teman lain yang sepertinya susah sekali untuk ‘menenangkan diri’. Bahkan terheran-heran, kenapa badan saya bisa setenang itu.

Yang mereka tidak tahu adalah, bahwa wetsuit setebal 3mm itulah yang menyebabkan badan jadi terus floating. Jangankan 15 menit, 1 jam juga masih bisa. Hahaha. Congkak.

Jika dive di Kadidiri satu tahun lalu aku hanya menerima enaknya saja, jadi tinggal nyemplung ke laut, maka lain dengan sekarang. Kami diajari langkah-langkah, per bagiannya secara mendetail. Tabung udara yang aku kira isinya oksigen semua, ternyata lebih sedikit kandungannya dibanding nitrogen. Tentu itu berhubungan dengan kapasitas paru-paru kita yang semakin ‘menyusut’ begitu sudah turun menyelam.

Cara memasang regulator ke BCD dan tabung lewat valve-nya. Namanya juga mengambil lisensi, jadi harus benar-benar bisa mandiri. Seperti halnya ambil SIM mobil, kalau menyalakan mesinnya saja tidak bisa, bagaimana nanti mau memasukan gigi? Kan gitu. Ya, bisa sih kalau nembak, lha kalau di laut nembak gimana? Ketemu Hiu, terus panik. Modar.

---

“Jadi sangat penting ya untuk divers punya sertifikasi. Dan nanti kalau kalian sudah punya kartu ini..” menunjukkan kartu PADI di depan kelas, “..kalian bisa dive bebas dimana saja” terang pak Shane.

Dalam diving ternyata juga ada jenjang karirnya, seperti agen asuransi. Itu ditunjukkan dengan banyaknya kartu yang ia miliki. Dari Open Water Diver, Advanced Open Water, Resque Diver, Diver Specialities seperti Underwater Photograper, sampai kartu puncaknya Master Scuba Diver.

Sudah berapa kali dive? Ribuan. Tak terkalkulasi lagi berapa menit di dalam hidupnya ia habisakan bernafas di dalam air. Bukankah itu adalah hal paling glorious yang pernah kamu dengar? Jika menilik sejatinya manusia bermuasal dari cairan.



Catatan; si bapak ini pernah dive sampai kedalaman 100 meter. Itu kan sepanjang lapangan bola sepak. Bikin rahang jatuh.

---

Sebelum turun ke dasar kolam renang, ada briefing terlebih dahulu mengenai cara berkomunikasi di dalam air, yaitu dengan isyarat, menggunakan jari-jari dan tangan kita sebagai kode. Termasuk juga saat memberitahukan sisa udara dalam tanki di punggung kita. Mau ngomong juga nggak bisa kan, yang ada air nanti masuk paru-paru. Bahaya.

Saat sudah sudah di dasar kolam yang dalamnya tiga meter itu, entah kenapa intro lagu Come As You Are milik Nirvana berputar begitu saja di kepala. Apa gara-gara video klip nya yang bernuansa air atau memang lagunya memiliki efek psychedelic?

Aku merasa seperti dalam pemotretan promo album Nevermind tahun 91. Jadi membayangkan bikin music video di dalam air, Alterego, empat personil masing-masing membawa instrument, banyak gelembung udara, bergerak melayang-layang dari sudut ke sudut kolam bagai mermaid, dan tentu saja yang tersulit adalah bagian drum.

Jadi ingin pasang insang.

Ada bunyi “tik tik tik” terdengar merambat lebih cepat ke telinga. Ternyata dari aluminium stick milik pak Shane yang diketuknya ke dinding tanki udara.

“Pay attention!” begitu kira-kira kalau diterjemahkan,

Ia memberi contoh bagaimana melepas masker di dalam air, dan sekaligus regulator dari mulutnya. Lalu dengan tenang ia memakinya kembali. Aku dibikin takjub. Bagaiamana mungkin?

Proses belajar di dalam kolam juga dibantu oleh Pak Bart, sebagai asisten instruktur. Ia yang memegang kedua lengan saya, menenangkan sewaktu panik saat masker sudah lepas dari wajah. Perih rasanya saat air berdesak-desakan mencoba masuk ke mata kita. Ada sekitar satu menit. Tapi saat kita mulai tenang dan fokus, semunya menjadi baik-baik saja.



---

“Dive itu tidak boleh sendiri, harus ada ‘buddy’”

Yes. Jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, maka ‘buddy’ lah penolong pertama kita. Misalkan jika kaki kita kram, dan tidak bisa meregangkan sendiri, atau paling pahit kehabisan udara saat sedang menyelam, maka untuk itulah buddy ada.

Ada dua selang regulator, satu yang kita pakai sendiri, yang kedua yang kita selipkan di BCD. Nah, yang kedua ini yang akan dipakai dive buddy kita untuk berbagi udara. Agak deg-degan juga saat mempraktekkannya di kolam. Lalu bagaimana jika udara akan habis dan ‘buddy’ tidak di sekitar kita? Itu ada tekniknya sendiri.

Dari ketiga bab pertama yang dipelajari. Satu yang terpenting, dan mungkin inti dari scuba diving adalah Hovering. Literally melayang, tanpa banyak ‘kicking’. Dan itu susah.



Seperti penjelasan dasar, daya apung positif, daya apung negatif. Hover itu netral, seimbang tidak terlalu naik maupun tidak terlalu turun. Pas. Karena semakin kamu banyak bergerak, semakin capat habis pula udara di tankimu nanti.

Teori memang gampang, mudah. Tapi tidak dengan aplikasinya.

---

Akhirnya bertemu juga dengan Barakuda. Kapal kebanggaan rakyat Tanjung Bara Dive Club.

 

Beberapa orang sedang memindahkan box keranjang plastik dari gear storage ke kapal ketika kami datang. Jadi sebelum berangkat, peralatan menyelam pun harus ready, terpasang, lalu ditaruh di perut kapal bersama dengan gear penyelam yang lain. Begitu sudah sampai nanti, tidak perlu repot-repot lagi.

Tepat pukul delapan, kapal bergerak menjauhi dermaga. Perjalanan sekitar 45 menit, dan here we are, sampai juga di spot yang dituju. Bengalon Reef.



Ombak yang besar, Barakuda jadi terombang ambing. Saking parahnya bikin badan sempoyongan. Kepala muter-muter rasanya. Memasang weight belt di pinggang, lalu menggendong scuba tank yang beratnya 15-an kilo itu membutuhkan perjuangan yang besar sekali. Tidak ada yang tidak mengeluh.

Satu teknik terjun dari kapal yang aku dapat setahun lalu saat dive pertama adalah Back Roll. Kita duduk membelakangi laut, lalu menjatuhkan diri sambil memutar, kepala-punggung-kaki. Ternyata itu berlaku jika sedang dive dengan kapal yang berukuran lebih kecil.

Dengan Barakuda, kita diajari untuk memakai teknik lain, Giant Step.

Berdiri di salah satu sisi kapal, mengambil langkah paling lebr yang kita bisa, masker dan regulator dijaga dengan salah satu telapak tangan. Kemudian.. byur! Tahu-tahu sudah di bawah air.

Tapi sebelum turun, kita wajib ‘check buddy’ dulu. Dari kepala sampai ujung kaki. Keran di bagian tank valve harus dipastikan sudah terbuka, BCD sudah terisi udara dan lain sebagainya. Safety first. Karena, pernah juga ada yang lupa memakai fins. See what I mean? Manusia kan tempat salah dan lupa.

“Dan jangan lupa equalize sedari awal!” pak Shane mengingatkan lagi.

---

Arus di dalam laut juga ternyata cukup deras. Kami bertujuh berderet, memegang bentangan tali yang sudah disiapkan di pos pertama reef di kedalaman 7 meter. Aku kedapatan dengan pak Bart untuk practice semua yang kami lakukan di kolam kemarin. Setelah itu baru eksplorasi reef.

Bisa dikatakan, ini adalah pengalaman pertama untuk semua. Maka jika fins tanpa sengaja menendang kepala teman, atau apapun yang ada dibawahnya harap dimaklumi. Air jadi keruh karena butir-butir pasir naik menghalangi pandangan. Itu biasa untuk divers pemula.



Selesai dive pertama, banyak yang tepar di badan kapal. Memegangi kepala masing-masing. Terlihat pucat. Tidak sedikit pula yang muntah. Kami officially berkenalan dengan Barakuda.

Di samping arus yang besar, saat-saat mengganti tanki udara di perut kapal itulah yang semakin menstimulus otak untuk mengeluarkan isi perut. Meskipun tidak sepengap bis kopaja saat jam pulang kerja, tetapi hoek-hoek yang ditimbulkan lebih kejam. Tahu-tahu sudah di tenggorokan.

Setelah dive interval selesai. Kami turun lagi untuk dive kedua. Ada satu kawan yang tidak ikut, karena perut sama sekali tidak berhenti mual. Kasihan.



---

Di sabtu kedua, masih ada 2 bab teori yang harus diselesaikan, dan setelah itu ada final exam. Ujian tertulis terakhir yang terdiri dari 50 soal pilihan ganda.

Kelas lebih banyak membahas tentang dive computer dan cara-cara penghitungannya. Ya, kasarannya dengan volume udara sekian, berapa lama maksimal waktu dive kita dan terbatas berapa meter kah penyelaman kita. Something like that.

“Dive safe ya!”

Berkali-kali Pak Shane mengucapkan kalimat itu. Selain menawarkan ketenangan, dan keindahan tiada tara di bawah laut sana, olahraga ini juga memiliki resiko yang tak kalah besar. Bahkan bisa berujung kematian.



Satu yang memiliki kesan angker untuk para divers adalah Decompression Illness. Sakit dekompresi. Kalau aku membahas ini, nanti jadi panjang sekali, jadi silahkan cari tahu sendiri jika tertarik.

Sementara itu Hovering juga masih menjadi subject utama. Duduk bersila di dalam air seperti orang sedang bertapa itu susahnya bukan main. Yang ada, badan malah berputar tidak menentu. Setelah itu, kami praktek melepas dan memakai kembali weight belt dan juga BCD di dalam air.



Pelatihan di pool berjalan dengan baik. Mungkin karena sudah tidak segagap minggu lalu. Final exam juga lancar jaya. Dari semua soal, hanya empat jawaban yang keliru. Jadi secara teori aku sudah lulus.

Waktu bertemu Barakuda keesokan harinya, kami sudah well-prepared. Sudah ada yang menenggak dua butir antimo, ada yang minum tolak angin dan obat-obat lain yang sejenis. Fight against sea sickness!

Selain students, rupanya ada beberapa diver yang ikut juga dalam kapal. Mereka ternyata lulusan institusi yang sama. Sangat welcome, tidak enggan untuk menyapa dan berkenalan terlebih dahulu. See? That’s the point. Selain ilmu dan pengalaman, kamu juga akan bertemu dengan teman-teman baru.

---

Di dive ketiga dan keempat ini, kami sudah menggunakan dive computer yang berupa jam tangan. Kita bisa memonitor semuanya dari situ, suhu air, kedalaman maksimal, kedalaman rata-rata, lama waktu penyelaman dan dive interval. Canggih ya, otak manusia memang tiada duanya.

Data-data yang otomatis terekam di computer, nanti kita pindkan ke diver’s log book. Tulis tangan. Jadi semacam buku diary menyelam, untuk menuliskan sejarah bawah laut kita masing-masing.


Dan entah gara-gara hujan gerimis atau yang lain, tapi aku merasakan view underwater kali ini lebih cerah dibanding minggu lalu.

“Kenapa nggak bawa bendera SLANK ya?” pikirku dalam hati.

Biar nanti aku tag Kaka di instagram.

---

Saat dive interval adalah saat dimana kita berkumpul di badan kapal bagian depan untuk kemudian membuka bekal makanan masing-masing lalu memakannya bersama-sama sambil berceloteh tentang makhluk-makhluk yang baru saja ditemuinya di bawah sana. Setelah kira-kira satu jam, baru turun dive lagi. Lalu pulang.



Kapal tiba di markas pukul satu siang. Seperti juga minggu-minggu sebelumnya dan berikutnya. Begitu sudah merapat di dermaga, kami berjibaku lagi untuk mengeluarkan dive gears dan tanki-tanki yang sudah kosong dari kapal. Baru setelah itu kita bilas dengan air tawar sebelum disimpan kembali ke storage room.

Peralatanmu adalah tanggung jawabmu. Itu yang kupelajari dari sini. Dengan makna yang lebih luas, setiap orang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

“Well done guys! Congratulations for the new divers!” seseorang menyeru agak keras,

Lalu teman-teman baru kami disitu bertepuk tangan. Seru sekali rasanya.

Pak Shane menyalami kami satu demi satu. Istrinya mengambil pas foto kami masing-masing untuk PADI card. Dan dalam waktu tidak lebih dari 24 jam, kami sudah menerima kartu temporary-nya via email.

Kami menunggu sekitar 2 bulan untuk official PADI card-nya sampai di Sangatta. Finally, aku punya sertifikasi juga my friends. Sebuah SIM bawah laut, yang alam bawah sadarku menginginkannya sejak tiga tahun lalu. Aku bahkan belum bisa mempercayainya sampai sekarang. Bagiku, ini adalah pencapaian yang luar biasa. Merasa beruntung, dari yang hanya ‘stage diving’ olahraga-nya, sekarang bertambah ‘scuba diving’.


Akhir kata. Bermimpilah sebanyak-banyaknya, semacam-macamnya, biar nanti Tuhan yang memilih, kapan dan mimpimu yang mana yang layak untuk diwujudkan.

Eh, ada pesan WA masuk, “Diving terus nih sekarang, jangan lupa menikah!”


SGT, November 2015

---

Foto-foto bawah laut karya teman-teman:

nudibranch
semua pasti tahu nama ikan ini, mereka senang sekali main-main di karang elektrik
ini sotong
ikan apa hayo?
Dan ini video bawah laut yang saya buat : 




Read More …